Ibu Angelica 1923 – 2016 : Perempuan yang Mengubah Dunia Lewat Iman

Lasallian.org  – Ibu Angelica 1923 – 2016 : Perempuan yang Mengubah Dunia Lewat Iman. Pada 20 April 1923, di Canton, Ohio, lahirlah seorang anak perempuan bernama Rita Antoinette Rizzo. Tidak banyak orang yang pada saat itu menyangka bahwa kehidupan anak perempuan tersebut kelak akan memberikan pengaruh besar terhadap dunia penyiaran Katolik. Bertahun-tahun kemudian, Rita dikenal sebagai Mother Mary Angelica of the Annunciation, atau yang akrab disebut Ibu Angelica. Ia kemudian menjadi pendiri Eternal Word Television Network (EWTN), sebuah jaringan media Katolik internasional.

Masa kecil Rita tidak mudah. Orang tuanya berpisah ketika ia masih kecil, dan kehidupan keluarganya diwarnai berbagai kesulitan. Ia juga mengalami masalah kesehatan sejak muda. Namun, pengalaman tersebut justru membentuk kepribadiannya menjadi seorang perempuan yang kuat dan tidak mudah menyerah. Dalam kisah hidupnya, pengalaman iman dan kesembuhan menjadi bagian penting yang kemudian memengaruhi keputusannya untuk menyerahkan hidup kepada Tuhan.

Pada usia 21 tahun, tepatnya 15 Agustus 1944, Rita memasuki biara Poor Clares of Perpetual Adoration di Cleveland. Ia kemudian menerima nama religius Sister Mary Angelica of the Annunciation. Pada 1947 ia mengucapkan kaul pertamanya, dan pada 1953 mengucapkan kaul kekalnya sebagai seorang biarawati.

Kehidupan biara ternyata tidak membuat semangat Angelica menjadi kecil. Justru dari kehidupan doa dan pengabdiannya, muncul keberanian untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih besar. Pada 1956, ketika menghadapi kemungkinan operasi tulang belakang yang serius, Sister Angelica berjanji bahwa jika Tuhan mengizinkannya berjalan kembali, ia akan mendirikan sebuah biara di wilayah Selatan Amerika Serikat. Beberapa tahun kemudian, janji tersebut diwujudkan melalui pendirian Our Lady of the Angels Monastery di Irondale, Alabama, yang didedikasikan pada 20 Mei 1962.

Namun perjalanan Ibu Angelica tidak berhenti di biara. Ia mulai menulis buku-buku kecil mengenai iman Katolik. Tulisan-tulisannya semakin dikenal dan kemudian membawa dirinya kepada berbagai kesempatan berbicara di depan umum dan melalui radio. Dari sana, ia mulai melihat bahwa media modern dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan keagamaan kepada lebih banyak orang.

Suatu hari, Angelica melihat sebuah studio televisi dan menyadari betapa besar potensi televisi untuk menyebarkan pesan yang ingin disampaikannya. Dengan keberanian khasnya, ia memutuskan bahwa jika tidak tersedia tempat yang sesuai untuk programnya, ia akan membuat tempatnya sendiri.

Keputusan tersebut terdengar hampir mustahil. Ia hanyalah seorang biarawati dengan pendidikan formal yang terbatas, tanpa pengalaman televisi, dan menurut EWTN ketika jaringan itu dimulai, ia hanya memiliki sekitar 200 dolar dan komunitas biarawati yang juga tidak memiliki pengalaman penyiaran. Namun, garasi biara kemudian diubah menjadi studio televisi sederhana.

Pada 15 Agustus 1981, EWTN resmi mengudara. Apa yang awalnya tampak seperti proyek kecil dari sebuah garasi berkembang menjadi jaringan media Katolik internasional. Ibu Angelica sendiri menjadi pembawa acara program “Mother Angelica Live”, dan gaya bicaranya yang sederhana, spontan, serta penuh humor membuatnya dikenal oleh banyak penonton.

Keberhasilan EWTN tidak datang tanpa masalah. Jaringan tersebut beberapa kali menghadapi kesulitan keuangan. Angelica menolak mengandalkan iklan berbayar sebagai sumber utama pendanaan dan memilih bergantung pada sumbangan para pemirsa. Baginya, kepercayaan kepada Tuhan dan keberanian mengambil langkah menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Pada 1987, ia juga mendirikan Franciscan Missionaries of the Eternal Word. Komunitas religius laki-laki yang berfokus pada pewartaan dan pengajaran iman Katolik menggunakan sarana komunikasi modern. Pada akhir 1990-an, komunitasnya kemudian pindah ke kompleks biara dan shrine di Hanceville, Alabama.

Pada malam Natal 2001, kehidupan Ibu Angelica berubah drastis. Ia mengalami stroke dan pendarahan otak yang membuatnya kehilangan kemampuan berbicara serta mengalami keterbatasan fisik berat. Setelah itu, ia menjalani tahun-tahun terakhir hidupnya dalam keadaan sakit dan lebih banyak berdiam di biara. Namun, menurut EWTN, ia tetap menjadi sosok penting secara spiritual bagi jaringan yang telah didirikannya.

Pada 2009, Paus Benediktus XVI memberikan kepadanya penghargaan Pro Ecclesia et Pontifice, salah satu penghargaan kepausan bergengsi bagi pelayanan kepada Gereja. Penghargaan tersebut menjadi salah satu pengakuan atas karya evangelisasi yang telah dilakukannya melalui media.

Akhirnya, pada 27 Maret 2016, bertepatan dengan Minggu Paskah, Ibu Angelica meninggal dunia dalam usia 92 tahun di Our Lady of the Angels Monastery di Hanceville, Alabama. Ia meninggal dikelilingi oleh para biarawati dan orang-orang yang merawat serta menyayanginya.

Kisah Ibu Angelica bukan hanya kisah tentang seorang biarawati atau pendiri jaringan televisi. Ia adalah kisah tentang seseorang yang berani memulai sesuatu meskipun sumber dayanya sangat terbatas. Dari seorang anak bernama Rita Rizzo, ia tumbuh menjadi seorang biarawati, pendidik, komunikator, dan pendiri organisasi media yang menjangkau jutaan orang.

Warisan terbesarnya mungkin bukan sekadar bangunan, studio, atau jaringan televisi, melainkan keberanian untuk mengatakan “ya” ketika kesempatan datang. Hidupnya menunjukkan bahwa sebuah gagasan besar terkadang dimulai dari tempat yang sangat sederhana—bahkan dari sebuah garasi kecil—ketika seseorang memiliki keyakinan, ketekunan, dan keberanian untuk mengambil langkah pertama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

okitoto

okitoto